14 November 2008

Miss Pikun : Susah Inget! Gampang Lupa!


Judul Novel : Miss Pikun : Susah Inget! Gampang Lupa!
Penulis : Jumanta
Penerbit : GagasMedia
Cetakan : Pertama, Oktober 2005
Tebal : (vi + 208) halaman
Harga : Rp. 26.000,-

Siapa sih yang kepengen jadi orang pikun?? Kalo ditanya, semua orang juga nggak bakal mau! Kasian banget kalau ada orang yang kena pikun akut di masa mudanya. Nah... Hal inilah yang dialami oleh tokoh utama novel ini.
Novel ini bercerita tentang seorang remaja kelas 3 SMA yang pikun berat, Kuncoroputri Hadisastro yang akrab dipanggil "Kun" oleh teman,sahabat dan para gurunya. Ia punya dua orang sahabat setia, Dhita dan Reyna.
Kepikunannya yang sangat parah inilah yang membuat novel ini menjadi kocak. Bayangkan saja, Kun pernah lupa hari. Seharusnya hari itu hari Rabu, tapi Kun mengira itu hari Kamis. Terang saja, semua buku pelajaran yang ia bawa salah semua. Apalagi hari itu ada pelajaran olahraga. Otomatis Kun juga tidak membawa seragam olahraganya. Akhirnya Kun meminjam seragam olahraga Dhina (Adik Dhita). Padahal, di sekolah Kun ada peraturan dilarang pinjam meminjam alat sekolah. Atas dorongan dua sahabatnya, Kun nekat meskipun takut. Celakanya, Pak Tris, guru olahraga mereka menyadari hal itu dan akhirnya Kun disuruh lari keliling lapangan selama jam pelajaran beliau.
Saat ia tengah menjalankan tugas larinya, ia melihat Wakil Kepala Sekolah, Bu Sherly yang dijuluki The Lady Devil oleh para siswa, mendatangi Pak Tris dan berbicara sambil menunjuk ke arah Kun. Kun sempat deg-degan dengan apa yang akan terjadi pada dirinya nanti. Tak lama kemudian, Pak Tris memanggil Kun dan Kun digiring ke ruangan Bu Sherly. Ternyata Bu Sherly mengabarkan bahwa ia tadi ditelpon oleh Om Fery, Om-nya Kun yang mengatakan bahwa papi Kun sedang di Rumah Sakit. Jadi, Kun diberi izin oleh Bu Sherly untuk menjenguk papinya. Namun sayangnya, ketika ia tiba di ruang tempat ayahnya dirawat, Kun hanya melihat garis lurus di alat deteksi jantung yang dipasang di tubuh ayahnya.
Jadi, setelah papi Kun meninggal, keluarga Kun hanya tinggal Mas Tio, kakaknya yang sedang menjalani studinya di Universitas Barkeley di Amerika. Mami Kun sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena leukimia.
Tak lama setelah penguburan papi Kun, diadakan pertemuan yang membahas tentang pembagian harta dan share business perusahaan pribadi yang dimiliki papi Kun. Ada dua keanehan yang mereka temukan pada pertemuan tersebut. Pertama, papi Kun sudah mengetahui tanggal kematiannya. Keanehan kedua, karena share business yang paling besar diberikan kepada Kun. Otomatis, Kun-lah yang harus menjalankan perusahaan sejak saat itu. Semua orang yang mendengar hal ini sangat kaget tentunya, kecuali Mas Tio yang sangat bijak dan sayang pada Kun. Sementara, kedua sahabat Kun ketika mengetahui hal ini, hanya memandang Kun dengan perasaan iba yang amat mendalam. Bagaimana tidak, Kun yang amat pelupa itu akan jadi seorang direktris sebuah perusahaan minyak yang besar.
Sejak itu, Kun yang resmi menjadi direktris, harus belajar pada Bu Eisye, sekretaris pribadi papi Kun yang juga mantan penyanyi Hawaiian. Awalnya Kun tidak suka pada Bu Eisye karena kejutekan dan kemodisannya. Namun, setelah mengenal Bu Eisye lebih jauh, Kun tahu bahwa Bu Eisye orang yang baik dan menyenangkan. Kun juga akhirnya mengetahui rahasia dibalik kedekatan Bu Eisye dengan papinya. Papinya ternyata pernah membantu Bu Eisye secara ekonomi dan sosial, dengan cara mempekerjakannya di perusahaan dan menyumbangkan satu ginjalnya untuk kesembuhan Bu Eisye yang saat itu masih mempunyai seorang putri yang masih kecil.
Hari-hari yang dilalui Kun cukup lancar meskipun ada beberapa hambatan. Ada tugas berat yang menunggu Kun. Yaitu pertemuan dengan orang Arab yang ingin menggunakan perusahaan Kun sebagai perusahaan bea cukai dalam bisnis minyaknya. Kun tentu menjadi makin sibuk belajar untuk menghadapi pertemuannya dengan pengusaha Arab itu.
Pada hari pertemuan Kun dengan orang Arab itu, ada musibah membahagiakan yang menimpa Kun. Yang menjadi musibah, Kun pergi ke ruang Suite 1603 plasa 1 yang seharusnya bukan tempat pertemuannya dengan pengusaha Arab itu. Belum lagi ternyata data-data yang dibawanya ke tempat itu bukan data perusahaan yang mestinya dibawa, melainkan data alat-alat fitness yang dikumpulkan papinya. Yang membahagiakan, ia bertemu dengan cowok keren bernama Davin yang kemudian PDKT dengannya. Kisah Davin dan Kun diceritakan oleh pengarang dengan cukup romantis.
Setelah sekian lama, Kun dan Tio mengetahui bahwa papinya dibunuh oleh kedua Om mereka dengan dibantu Pak Wilson. Hal ini diketahui dari Donna, anak Bu Eisye yang mendengar rencana selanjutnya, yaitu menguasai perusahaan, serta membunuh Kun dan Tio.
Kisah Kun ini mengangkat tema yang biasa dialami sehari-hari. Kita sering melupakan sesuatu, bahkan hal yang penting sekalipun, walaupun tak separah tokoh dalam cerita ini. Ceritanya cukup menghibur dan termasuk bacaan ringan. Kesan awal membaca mungkin terkesan biasa saja, namun endingnya cukup membuat pembaca penasaran.
Sayangnya, buku ini yang termasuk kategori buku "Teenlit", covernya terbilang kurang menarik. Karena menggunakan warna-warna sederhana dengan warna primer cover putih. Hal ini saya rasa kurang menarik untuk ukuran bacaan remaja saat ini yang rata-rata suka warna-warna 'norak'. Kekurangan lainnya adalah penggunaan kertas buram sebagai isi buku. Meskipun begitu, buku ini terbilang bagus karena kekurangan hanya ada pada segi fisik, bukan isi.
Semoga novel-novel Indonesia bisa lebih bermutu ke depannya.

3 comments:

Anonymous said...

aku suka novel ini.
banyak pembelajaran yang aku ambil dari novel ini. semoga bermanfaat juga buat yang lainnya :)

blablabla-amy said...

i like this novel :)
bnyak hal yg seru d'dlam.a mah (:
hehehe

Anonymous said...

novel na bgz,,,, i like it

Post a Comment